Deforestasi Mengancam Keberadaan Monyet Hutan di Lereng Gunung Seroja


Miris memang, apalagi bersamaan dengan video ini diambil, ada seseorang yang sedang menebang pohon dengan menggunakan chainsaw, suaranya sangat terdengar jelas. Hanya berjarak kurang lebih 50 meter di sebelah selatan (di bawahnya) kawanan monyet gunung itu. Terdengar pula raungan monyet yang tak kalah nyaring dengan suara chainsaw, seolah memberi komando kepada kawanannya untuk segera menjauh karena tempat tinggalnya diusik. Sesaat setelah pohon tersebut tumbang, beberapa ada yang masih bermain bergelantungan di atas pohon, beberapa ada yang langsung turun dan berpindah ke pohon lain pada bagian sisi lereng yang lebih tinggi. Lahan pertanianpun sudah semakin mendekat merambah ke kawasan hutan, berdasarkan pemantauan saya jaraknya kurang lebih hanya 100 meter dari kawanan monyet tersebut berada. Sudah sangat dekat.

Gunung seroja ini berada di desa Tlogo kecamatan Garung kabupaten Wonosobo. Letaknya tepat berada di atas waduk Tlaga Menjer. Desa Tlogo ini juga berdekatan dengan desa Maron yang masih saya ingat sewaktu kecil di daerah kuburan desa Maron saya bisa melihat beberapa monyet liar bergelantungan. Di atas desa Tlogo merupakan kawasan pertanian intensif dan perkebunan teh. Beberapa lahan pertanian masih terlihat jelas baru dibuka dengan membasmi semak-semak ilalang menggunakan herbisida.

Saya merupakan salah satu orang yang sangat antusias melihat satwa di alam bebas secara langsung, bukan di kandang. Meskipun itu hanya seekor burung, bajing, ular, kupu-kupu bahkan capung sekalipun. Bahkan saya bisa menghabiskan waktu yang lama untuk diam di tempat demi menyaksikan mereka sampai pergi. Dan melihat secara langsung monyet gunung merupakan salah satu moment membahagiakan yang saya syukuri, karena di Wonosobo sudah sangat jarang ditemukan satwa liar seperti monyet dan rusa. Bisa dibilang jika bertemu dengan mereka merupakan sebuah kejutan. Terakhir, saya melihat monyet gunung saat sedang mendaki di Ungaran sekitar 3 tahun yang lalu.

Seperti banyak diketahui bahwa Wonosobo terkenal akan produksi pertanian khususnya sayur mayur karena berada pada lokasi strategis yaitu pegunungan. Ironisnya hampir semua lahan pertanian yang berada di kaki lereng-lereng gunung telah merambah ke atas hingga kurang lebih 50% nya gunung. Bahkan di daerah Dieng, sampai puncak bukitpun tak luput untuk ditanami komoditas sayuran. Yang saya khawatirkan adalah ketika daerah lereng gunung Seroja ini tidak segera ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung oleh pemerintah Wonosobo, bukan tidak mungkin sampai puncaknya akan dibabat dijadikan lahan pertanian. Kenapa tidak mungkin? Dibalik lereng gunung Seroja ini adalah desa Sembungan (di sisi barat laut) dan desa Serang (di sisi timur laut) yang memiliki banyak lahan pertanian sampai ke atas bukit-bukit. Bisa jadi, lahan pertanian desa Tlogo di kaki gunung Seroja ini akan merambah naik apabila kawasan hutan di lereng gunung Seroja tidak segera ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung. Pemerintah memiliki peran penting untuk mengendalikan warga untuk tidak merusak kelestarian lingkungan.

Sisi barat laut gunung Sindoro saat cerah dilihat dari lereng gunung Seroja, terlihat jelas separuh dari gunung merupakan pemukiman dan lahan pertanian warga

Sebagai contoh, di lereng gunung Kembang sudah mulai terlihat jelas batas kawasan hutan lindung. Beberapa waktu lalu ke sana, yaitu daerah desa Tlogojati melalui kawasan wisata baru yaitu lembah Kembang, saya mencoba explore daerah perkebunan teh dan sampai daerah hutannya. Jarak batas kawasan hutan lindung dengan lahan pertanian paling ujung saya perkirakan tidak sampai setengah kilometer. Namun setidaknya dengan batas yang jelas ini, warga tidak berani untuk memperluas lahan pertaniannya sampai ke daerah hutan lindung.

Jika membandingkan dengan daerah-daerah lain, kawasan hutan di lereng gunung-gunung di wonosobo sangat memprihatinkan. Dari pantauan map sudah sangat jelas terlihat kawasan “hijau” nya tidak luas. Coba saja bandingkan dengan gunung Ungaran, gunung Slamet, gunung Lawu dsb.

Namun saya optimis dan berharap semoga lima atau bahkan sepuluh tahun mendatang masih bisa menyaksikan kawanan monyet gunung Seroja ini secara langsung di habitatnya.

Pengalaman Juara 3 KRENOVA Wonosobo 2020


Did you know, sebenarnya saya mengetahui informasi lomba KRENOVA (Kreativitas dan Inovasi Masyarakat) Wonosobo tahun 2020 ini kurang lebih sebulan sebelum pendaftaran ditutup. Itupun dari status Whatsapp teman saya, begitu tahu informasi itu langsung saya kepoin dong medsosnya penyelenggara yaitu BAPPEDA Wonosobo mulai dari akun instagram sampai websitenya dengan harapan saya dapat detail tentang timeline, alur, dan syarat untuk ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut.

Meskipun saat itu saya belum mendapat ide untuk membuat apa (sesuai judul lah ya yaitu kreativitas dan inovasi), saya tetap antusias dan bertekad untuk harus bisa ikut meramaikan agenda tahunan tersebut. Beberapa teman sempat saya hubungi dan saya ajak dengan harapan ada ide ide segar selain dari saya sendiri. Kepesertaan boleh individu maupun kelompok btw. Karena tidak teman ada yang minat, akhirnya saya putuskan untuk menjadi single fighter saja. Setelah dua tiaga hari tanpa pikir panjang saya ingin mengangkat ide tentang pendidikan daring. Judul yang saya daftarkan yaitu “QUIZKU” Aplikasi Berbasis Bot Telegram sebagai Alternatif Media Belajar di Era Pandemi.

Pembuatan aplikasi ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh keresahan saya secara pribadi dan beberapa teman operator sekolah mengenai sistem belajar online yang sebenarnya “dipaksakan” untuk diterapkan, terutama mengenai tes/ujian online. Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun ini sudah digantikan dengan AKM (Assesmen Kompetensi Minimum) yang sebenarnya secara teknis hampir mirip yaitu dengan online. Kalau sebelumnya UNBK dilaksanakan secara semi-online, untuk AKM ini dilaksanakan dengan full online sehingga yang ada dipikiran saya pertamakali ada wacana tersebut adalah pelaksanaannya akan ribet, lemot dan banyak masalah terlebih siswa belum terbiasa menggunakan komputer ataupun gadget untuk tes online seperti ini. Belajar dari UNBK yang notabene semi-online tapi ternyata masih banyak masalah di sini sana tentang koneksi dan masalah server, tentunya AKM yang full online ini memiliki masalah lebih parah dari sisi server karena yang mengakses adalah seluruh sekolah se-Indonesia Raya dalam waktu yang relatif bersamaan. Bagaimana tidak down coba. Dari hasil simulasi 1 (skala kecil) dan 2 (skala besar) hasilnya juga zonk. Aplikasi tidak bisa diakses sama sekali, hanya sebagian sangat sedikit saja yang bisa mengakses itupun tidak lancar.

Dilatarbelakangi alasan tersebut muncullah ide untuk membuat aplikasi yang ringan dan reliable digunakan. Terutama aplikasi yang ringan dan menjangkau seluruh kualitas jaringan, karena seperti kita tau bahwa tidak semua sekolahan, siswa ataupun guru berada pada wilayah dengan kualitas jaringan internet yang baik. Sehingga saya memutuskan untuk membuat aplikasi berbasis website. Untungnya saya memiliki basic web programming dan tinggal cari partner untuk membantu saya dari sisi user side agar lebih mudah dan cepat membangun aplikasi ini. Selain berbasis website, aplikasi ini juga terintegrasikan dengan Bot Telegram yang saya rasa hampir seluruh smarthphone memiliki aplikasi ini selain Whatsapp tentunya. Berbasis website saya pilih dengan alasan mudah dicustom, ringan dan semua pengguna memiliki browser untuk mengaksesnya. Ssedangkan integrasi dengan Bot Telegram memungkinkan akses yang cepat meskipun dalam kualitas jaringan 2G. Dari laman resmi Telegram, mereka mengklaim bahwa platform ini lebih cepat dari platform media sosial chat manapun seperti Whatsapp, LINE dsb. Pada akhirnya, pengguna tidak perlu install aplikasi baru untuk mengakses Quizku.

Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan saya membangun aplikasi tersebut dibantu dengan teman dekat saya. Dia berperan sebagai analis dan tester sedangkan saya fokus pada developement. Waktu sesingkat itu memang saya tidak terlalu berharap banyak pada hasil akhir, karena pengembangan aplikasi sangat butuh waktu terutama dalam uji coba fixing bug. Fitur yang ditawarkan juga tidak muluk muluk, mengusung konsep kuis, seperti namanya, aplikasi ini fokus pada penyediaan platform latihan soal yang sederhana dan bisa digunakan untuk tes/ujian online. Jadi pengguna dapat membuat konten melalui website Quizku untuk kemudian dapat diakses melalui Quizku_bot Telegram.

Selain membuat aplikasi, kita juga diwajibkan untuk membuat website tentang produk (aplikasi) kita. Karena masih sederhana kami pun membuat videonya sederhana saja untuk mengehemat waktu mengingat deadline semakin mendekat. Sekitar jam 10 malam tanggal 25 Oktober 2020 saya masih ingat baru selesai scan surat pernyataan sebagai salah satu persyaratan dan kemudian submit. Sangat mepet dengan deadline.

Pengumuman nominator untuk ke tahap presentasi sebenarnya lama sekali, yaitu seminggu sebelumnya. Sebulan lebih membuat saya hampir lupa. Saya tahu kalau saya lolos juga dari teman saya yang mengikuti akun instagram bappeda, hehe. Alhamdulillah.

Sebenarnya saya auto panic juga kalau masuk sebagai finalis. Sudah lama kemampuan presentasi tidak diasah dan harus perform dalam waktu seminggu plus membuat bahan materi presentasi terlebih dahulu. Untungnya saya tidak sendirian sehingga support dari partner saya sangat berarti. Dan juga finalis dari adik adik SMA membuat saya termotivasi dan bangga, mereka saja bisa sayapun juga harus lebih bisa, gengsi dong 🙂

Oh iya, presentasi dilaksanakan hanya dengan juri dan beberapa panitia karena untuk menghindari kerumunan saat pandemi. Peserta lain di luar ruangan.

Singkat cerita pengumuman pemenang juga agak lama dan alhamdulillah dapet juara. Dan katanya dari finalis ini nanti akan melaju ke tingkat provinsi. Selamat dan semangat buat kita semua!!!

Harvesting Semi organic Chilies alongside brassicas


One of the efficient growing practice is intercropping. It allows us to maximize the potential production by optimizing space. Intercropping produces the benefits of on-farm diversity, increased productivity, resource distribution balance, farm risk reduction, and weed and insect pest control.

One most important reason why people do the intercropping is farm risk reduction. It can mitigate losses where the failure of any one of the component crops occurs. The failures could be due to severe diseases or pests attack, or the price at the market is too low and unprofitable so that income is less than outcome. Especially in this pandemic, the price is not getting better and could be a big loss if we only rely on one type of commodity.

Better utilization of growth resources like nutrients is also able to lower the cost for the fertilizer. The brassicas relatively need less nutrients than chilies, we also called it as companion planting. Not all nutrients is consumed by the chilies plant due to leaching and it move to the deeper soil so that the brassicas can optimize this leached nutrients where they were planted alongside chilies plant at the lower soil without any competition for nutrients between them. So, it’s about efficiency right? Not only nutrients, the light and moisture were also opmtimized. We found less weeds than when we’re not applying intercropping.

20 days before harvest. Less weeds means less effort to controll 🙂

As far as we observe every week, the pest attack was not as severe as monoculture. Intercropping made a diverse and invited some insects to coming in. We were able to find beneficial bugs like ladybird/ladybug coccinella sp. on every chilies plant (some on brassicas). As we know that this insect has a role as predator for aphids, mites and other tiny leave-sucker insect. But, we have some caterpillar attack like Plutella on chilies plant and some bigger caterpillar with hair-like bristles (setae). We only controlled them manually and spraying organic pesticide made from extracted tobacco mixed with soaps.

By the way, we’re only harvesting few of red chilies. It’s only about 5% from total harvested chilies (95% green chilies). We’re rely on the greens so hard because the difficulties to maintain them until getting reds, so many diseases to survive. We’re not using any chemical pesticide. This variety has less price due to its taste which is not as spicy as the variety before. We sell them at price Rp. 6000,- per kg, and Rp. 2000,- per kg for the price of brassicas.