Puasa dan Syawal, bagaimana kelanjutannya ?

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah setelah sekian lama punya keinginan buat ngeblog, ternyata baru sekarang kesampaian. Bukannya gak bisa sih, dan emang sedikit bisa, cuma masih bingung aja apa yang mau di posting. Soalnya saya gak pinter-pinter amat buat nulis artikel, esay, ataupun ngarang. Boleh dibilang si malahan gak bisa. Tapi ya sambil jalan sambil latihan lah. Bisa kan lebih baik. Siapa tahu besok jadi penulis,hhe

Baiklah, setelah melalui perdebatan yang sangat sengit, akhirnya tangan dan jemari saya setuju buat ngisi blog ini seadanya. Diantaranya bisa pengalaman, dan apa aja yang saya dapat selama masih menjadi siswa dan tilmidz.

Untuk kali ini, topik pembahasan yang akan saya sajikan adalah mengenai hikmah bulan Ramadhan dan praktek kelanjutannya.

Satu bulan yang melelahkan sudah kita lewati. Bukan hanya raga kita yang ditempa dengan hebatnya, jiwa kita juga telah diasah dan dibersihkan lagi dengan puasa. Ibadah yang satu ini merupakan ibadah dengan mengharuskan persiapan yang matang. Jika belum siap, belum puaslah hasil yang akan diperoleh.

Bagi teman-teman yang full puasa, trawih, dan tadarusnya pasti merasakan sekali kelelahannya. Setiap hari berlapar-lapar masih disuruh solat sunah sampai berpuluh rakaat, belum lagi setiap hari koma-kamit melantunkan ayat suci bukanlah hal yang mengenakkan badan. Tapi percayalah, dibalik semua itu ada banyak hikmah dan kepuasan yang tak tergantikan dibulan-bulan lain.

Kini syawal, apaka kita sudah menang? Tentu yang tahu hanya diri dari masing-masing individu melihat bagaimana menjalani hidup satu tahun kebelakang dan terutama di bulan Ramadhan. Apakah sudah lebih baik dari tahun kemaren atau tidak. Apakah ada peningkatan, atau bagaimana hasilnya?

Tentu di moment Lebaran kemarin kita telah mendapatkan banyak sekali kebahagiaan, merasakan indahnya bermaafan, bertemu orang yang telah lama jauh dari kita, bersilaturahmi kesana kemari dan bahkan kenikmatan makan jajanan beraneka ragam bisa kita dapat disini,hhe. Belum lagi opor ayamnya…hhm

Lalu sekarang, sudahkah kita mengimplementasikan dari begitu banyak hikmah dari dua moment diatas, Ramadhan dan Syawal. Apakah kehidupan kita sehari-hari sudah tercermin dari kegiatan kita di bulan itu. Ini yang perlu diperhatikan.

Dari sekian banyak hikmah puasa pada intinya ialah Tazkiyatun Nafsi atau bersih-bersih diri. Biasanya hari-hari kita isi dengan banyak kemaksiatan, namun pada bulan itu kita dituntut untuk menahan itu. Dari mulai amarah yang meledak-ledakpun tidak diperbolehkan. Bahkan yang halalpun diharamkan seperti makan walaupun makan makanan halal. Tak lain tujuan dari itu ialah spaya kita ingat kepada  yang maha kuasa dan peka terhadap sekeliling kita. Sama-sama merasakan hal yang sama dan memperbanyak ibadah merupakan cara usaha kita untuk menutupi atau bahkan menghapus dosa-dosa yang selama ini diperbuat. Diharapkan pula apabila yang halalpun kita dapat menahannya apalagi hal-hal yang diharamkan. Tapi ibarat kata pepatah, mempertahankan lebih sulit dari memperoleh ternyata berbanding lurus dengan pendapat saya. Apa-apa kebiasaan baik kita dibulan Ramadhan ternyata lebih sulit di praktekan diluar itu. Tapi marilah dengan sekuat tenaga kita berusaha mempertahanan dan melanjutkan kebiasaan kita di bulan Ramadhan dalam kehiduapn sehari-hari. Omong kosong kalau ada orang yang mengaku bertobat tapi hanya hari itu dia sholat. Sama seperti puasa, tidak ada gunanya jika setelah itu masih saja melakukan maksiat, serakah, sombong, dsb.

Betapa indahnya jika setiap hari kita menjalani hidup dengan tentram, kemaksiatan dikurangi, tidak mudah marah –meskipun bolehlah sekali dua kali-, banyak orang berbagi, sholat berjamaah dan tidak menuruti hawa nafsu melulu. Tentu hal itu sebahagian orang hanya pada bulan Ramadhan.

Buat teman-teman yang suka puasa, jangan berhenti sampai disini. Bisa dilanjutkan dengan puasa seperti Nabi Daud as, atau seperti Nabi Muhammad SAW dengan mengambil hari Senin dan Kamis untuk berpuasa. Bagi yang senang mengkhatamkan Al-Qur’an, bisa kok setiap hari setelah setiap sholat fardhu untuk membaca Al-Qur’an. Syukur Syukur setengah atau satu juz bisa selesai (kalau dihitung dalam sebulan kan lumayan, udah hatam satu kali.) dan yang suka sholat malam, tambahin rakaatnya. Dan yang suka banget ngebagiin zakat, bisa berbagi dengan orang lain yaitu dalam bentuk sodaqoh, insyallah bermanfaat.

Dengan persaudaraan kita hidup, berkembang, beribadah, berkarya, dan bekerja. Silaturrahmi merupakan wujud dari ibadah Hablun minan Nas. Wajib bagi seluruh umat manusia untuk mempererat tali persaudaraan, meskipun kepada bukan yang seiman (toleransi). Bahkan dalam suatu hadist, nabi menegaskan betapa pentingnya hal tersebut. Kalau tidak salah bunyinya seperti ini ‘barang siapa memutus tali persaudaraan, maka diharamkan baginya mencium bau surga’. Kalau saya bilang, apalagi memasukinya ya, hi..ngeri bukan.

Bukan tanpa alasan, ada banyak sekali manfaat jika kita bersilaturahmi, berkunjung-kunjung dengan kerabat atau bahkan saudara. Diantaranya :

Ibadah

Yang pasti dalam Alqur’an saja Allah memerintahkan bahwa hakikatnya diciptakannya manusia dengan berbeda-beda ialah untuk saling mengenal dan menghormati (kaya lagunya Dewa19 aja ya..hhe). dan yakinlah, perintah Allah pastilah mengandung nilai ibadah dimata-Nya.

Awet muda

Meskipun pada dasarnya raga kita menua, namun jiwa dan hati kita akan tetap segar apabila kita selalu dekat dengan sang pencipta dan orang yang kita kenal, menyayangi, dan slalu berbagi dengan kita. Selalu ada cerita didalamnya. Sehingga tawa, canda, sedih, senang bisa kita rasakan jika terus bersama-sama menjalani hidup.

Menambah keakraban

Yang ini lebih khususon buat yang jarang tahu kalau ternyata si fulan –bisa dibilang- masih sedulur. Padahal setiap harinya bertemu. Dan tambah akrab pulalah hubungannya. Begitu juga dengan pertemanan dan persahabatan, silaturahmi dan saling mengunjungi merupakan media terhebat mempererat hubungan tersebut.

Pesan saya,jangan sampai putus tali yang sudah terjalin. Pertemanan, persahabatan, pacar, apalagi keluarga. Semoga dalam menjalani hidup kita tidak lupa akan  kebesaran-Nya di Ramadhan dan Syawal. Tidak lupa juga untuk meningkatkan ibadah kita, lebih-lebih melebihi di bulan Ramadhan. Semoga tahun depan kita masih dipertemukan dengan Ramadhan dan Syawal.amin

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Advertisements