Untung Rugi Jam Pelajaran Kosong

Assalamu’alaikum all

Kita jumpa lagi nih di posting kedua. Setelah sekian lama –kira kira ±dua minggu- gak login blog lagi. Jadi rindu aja.

Berikut  ini saya akan membahas tentang judul diatas. Seperti biasa yang terjadi tapi gak sering banget sih, pelajaran kosong tak jarang banyak membuat siswa senang bahkan menjerit histeris. Entah itu alasan guru ada rapat, briefing (sama aja ya?), kondangan, atau ada yang anaknya lagi sunatan, tetep aja -entah itu rasa bahagia atau kegirangan- banyak siswa sering memperlihatkan expresi wajah kegembiraan. Padahal apa sih nikmatnya jam kosong. Gak ada yang di makan kan? Atau, ada sensasi tertentu yang didapatkan?

Nah, kalau dari pengalaman saya dan beberapa hasil wawancara exklusif secara tidak sengaja dengan teman-teman yang saya kenal, kebanyakan dari mereka merasa biasa-biasa aja dan kadang mengasyikkan. Apa yang mengasyikkan? Mari kita bahas satu persatu mengenai keuntungannya :

Ngobrol

Hal yang satu ini memang menjadi kebutuhan utama bagi setiap orang dan apalagi seorang siswa. Bagi mereka yang merasakan kejenuhan karena terus-terusan belajar, ngrumpi –kata lain dari ngobrol-  ternayata mampu menghilangkan stress. Meskipun memang slalu ada jam istirahat, tapi kalau dibandingkan dengan lamanya jam belajar, seperempat jam itu hanya satu per dua puluh delapan bagian dari waktu yang kita miliki 7 jam disekolahan. Bayangkan? Wajar saja bila jam k0song sering digunakan untuk bercengkrama dengan teman.

Bermain

Soal bermain, siapa sih yang gak suka. Apalagi kalau bersama dengan orang yang sebaya dan seplantaran dengan kita, tentu bermain dan bergurau akan terasa lebih mengasyikkan. Kalau yang laki-laki ya biasanya main pokeran, uno, (lumayan, bisa buat nglatih skill judi), sepakbola, bahkan ada yang rela berkelahi adu mulut. Lain lagi dengan perempuan, ngegosip dan ngeceng merupakan menu utama dalam kehidupan. Tapi sih pesan saya, jangan ngegosipin orang tentang keburukannya lah ! kasihan dia nanti, kalo

Uang saku tebel

Bagi kamu-kamu yang hobi banget sama yang namanya jajan ato jalan-jalan, berharap agar setiap harinya selalu kosong saya rasa, bolehlah sesekali. Tapi jangan harap bisa plek setiap hari selalu terkabul. Lumayan, uang dari ortu kan bisa dinikmatin sepuasnya di kantinm atau bila kadang-kadang pulang lebih awal bisa tuh digunain buat senang-senang sama teman diluar. Jadi lebih gaul dikitan.

Sepertinya hanya itu saja yang dirasa berdampak positif bagi pikiran. Ingat, bagi pikiran, bukan intelektual kita. Karena pada dasarnya seseorang yang pergi kesekolah kan tak lain buat cari ilmu dan meningkatkan intelektual serta sosialnya agar selalu siap jika nanti dihadapkan pada kehidupan bermasyarakat. Nah kalo  ruginya, ada dibawah ini :

Waktu terbuang percuma

Coba renungkan kembali apa sebenarnya tujuan kita pergi sekolah. Ilmu, ya ilmu memang ingin kita dapatkan disana. Tapi dengan kosongnya pelajaran, kepergian kita kesekolah menjadi sia-sia. Tak ada ilmu yang didapat. Waktu yang seharusnya sangat ideal untuk belajar dan mengisi otak yang lapar dengan ilmu –karena masih pagi dan fresh- cuma hanya digunakan diluar niatan, santai-santai bercanda, mendongeng, bahkan ada yang loncat-loncatan segala.

Hak sebagai pelajar tak terpenuhi

Siapa si yang gak suka ngetuntut –bukan ngentut ya- hak yang seharusnya menjadi miliknya. Apalagi ketika kewajiban sudah ditunaikan. Wah, urusannya bisa beribet. Sama. Ketika para orang tua siswa sudah dengan rela manitipkan anaknya disekolah dan membayar sejumlah biaya yang sangat gak sedikit, eh palah siguru gak Menuhin kewajibannya buat Menuhin hak anaknya. Jadi, uang dibawa lari tapi pas pelajaran malah pergi. Yang kasihan kan akhirnya orang tua kita.

Ulangan gak bisa

Mending jika guru masih member materi kepada guru piket untuk disampaikan kepada murid. Tapi kan yang namanya belajar tanpa guru, ibarat mobil tanpa setir. Menjadi sulit untuk memahami dan mencermati apa sebenarnya dan bagaimana untuk melakukannya. Bahkan ada orang yang mengatakan, belajar tanpa guru, yang mengajar syetan. Bagaimana syetan mengajar? Coba Tanya aja sama pak kyai, soalnya saya kurang tau adat istiadat persyetanan.

Kalo begitu kejadiannya dan  tiba-tiba pas mau ulangan ya…., gelagepan deh. Ujung-ujungnya palah masuk kelembah contek-mencontek.

Nah sudah tahu kan kalo ruginya jam kosong tuh kaya apa. Trus apa ya yang seharusnya kita lakukan buat ngisi kekosongan itu supaya waktu gak kebuang sia-sia dan berbalik manfaat pada kita.?

Yang  banyak saya dapatkan si –entah itu dari guru atau ustadz- mendingan amalin tu surat Al-Alaq ayat 1. Entah itu buku tentang pelajaran –idealnya si begitu, biar lebih mendalami pelajaran- atau cerpen, Koran novel, dsb atau Al-Qur’an jika sempat, insyaallah bermanfaat. Dan lagi bagi yang suka nulis, jangan sungkan-sungkan meski itu berada didalam kelas. Kalo gak ya bisa kok ke perpus, atau ditempat yang sejuk dan teduh –tapi jangan WC ya-.

Sekian dari saya, kurang dan lebihnya mohon maaf. Wabillahi taufik walhidayah waridho wal inayah

Wassalamu’alaikum wr.wb

 

contoh akibatnya seperti ini,

Advertisements