[Cerpen] Gang Alice

Gang Alice

Oleh :Junaidi m

 

“Hus.. Hus..”

“Whaha.. ha..”

“Jangan. Jangan ganggu mereka.”

“ha.. ha.. ha..”

Teriakan bocah kecil itu begitu menyedihkan. Di sudut gang dengan lebar kurang dari tiga meter itu beberapa anak laki-laki tepat dihadapan matanya, mengganngu dan menakut-nakuti dua kucing kesayangannya. Bukan itu saja, mereka bahkan sampai melempari dengan batu-batu kerikil.

“Ha ha..”

Mereka tertawa sambil terus berusaha melukai Pipit dan Cicit, dua kucing yang dirawatnya sejak kecil. Dengan terbirit-birit mereka lari ketakutan. Bahkan anak anak nakal tadi terus mengejar dan memburu Pipit dan Cicit, seolah mereka hewan liar. Karena belum puas karena dirasa lemparannya belum tepat sasaran, dua kucing itupun dikejar dengan buasnya.

Sampai dihadapan mereka, diujung gang, adalah jalan raya yang ramai dengan kendaraan-kendaaan besar. Boleh dibilang jalur ini paling ramai di kota ini.

“Berhenti…!”

Apa daya, bocah malang itu tak bisa mengejar mereka dengan cepat. Karena keterbatasan mentalnya, dia hanya bisa merengek, menangis, dan mengutuk anak-anak nakal tadi.

Rengekannya semakin keras.

Membuat orang-orang keluar rumah. Mengekspresikan masing-masing kekesalan mereka dan memaki-maki bocah perempuan itu. Bahkan tak ada yang berani mendekat karena setiap didekati, dia mengamuk.

Akhirnya mereka hanya bisa teriak-teriak dan kesal juga, karena bagaimanapun itu juga karena ulah anak-anak mereka.

“Andi, pulang ! jangan ganggu kucingnya, kasian” Salah seorang ibu memanggil anaknya.

“Rico..!” Panggil ibu yang lain. “Jangan sakiti kucing itu, nanti kualat !”

“Bima…”

“Ali…”

Dan seterusnya.

Tapi anak nakal itu tetap pada keinginannya. Hingga sampai ditepi jalan raya, Pipit dan Cicit berhenti. Sebagai hewan, mereka masih memiliki insting kewaspadaan. Bahwa tidak hanya dibelakang, didepan merekapun merupakan ancaman yang besar. Seolah mereka berpikir bagaimana menyebrang jalan sepadat ini dengan selamat sementara musuh masih terus memburunya.

Setelah merasa aman, segera mereka lari berusaha melintas.

“Tin…. tin.. tin..  ”

Suara klakson yang sangat membuyarkan membuat mereka berhenti, dan melihat kebelakang.

Sudah tidak ada.

Ya, anak-anak tadi sudah tidak mengikutinya. Hanya melihat dan menyaksikan dengan putus asa melihat buruannya kabur. Tak bisa mereka menyebrang jalan seramai ini. Sementara itu bocah perempuan itu segera menjemput, dan tiba-tiba

“Pwemmmm..”

Sebuah truk besar melintas.

Matanya hampir lepas, melotot tak percaya. Detak jantungnya terasa berat. Pikiran apalagi. Dia hanya bisa mencoba untuk lari mendekat.

Tepat didepan matanya , truk itu berhenti. Terlihat darah segar keluaar dari bawah ban. Merah, masih sangat segar.

Di saat seperti ini justru ia kembali tak dapat bicara.

Jalanan menjadi ramai. Entah apa yang menjadi tontonan warga. Drama sang bocah perempuan ataukah bangkai Pipit yang gepeng terlindas ban. Sedangkan anak-anak nakal yang tadi mengejar hanya melihat  dengan kecewa. Buruannya sudah dimangsa musuh lain.

Sedangkan lagi bocah perempuan itu semakin dramatis mencucurkan air mata. Membanjiri bulu-bulu putih Cicit yang ada dipeluknya, selamat dari lindasan ban.

Pipit telah tiada.

Dipeluknya Cicit erat-eret. Ia berjanji tidak akan membiarkannya dijahili oleh anak nakal macam tadi. Tidak boleh, tak seorangpun.

Terlihat seorang wanita mendekatinya. Dari wajahnya terlihat kalau dia ibunya. Berusaha dan membujuk agar bocah itu berdiri.

“Alice.. ayo pulang !”

“….eah ..eahm “ Alice tak memperdulikannya.

“Ayo nak ! bangun..”

“Nanti kita bawa pulang juga.”

Ibunya seakan tahu maksud Alice menunjuk-nunjukan tangannya ke bangkai Pipit. Ia menuntun Alice dengan perasaan sedih mendalam. Lagi-lagi batinnya menahan itu. Dia yakin setelah kejadian ini Alice tak mau lagi bicara pada siapapun.

Untuk kesekian kalinya.

“Mas Jono !”

“Iya”

“Bawa Pipit pulang, ya !”

“Baik”

Tukang kebun itu hanya menuruti dan memaklumi.

Sejak kejadian itu, bocah perempuan malang Alice selalu menemani Pipit yang sudah dikubur di halaman belakang runmahnya. Kadang ia juga tidak melupakan kegiatan sehari-harinya bermain di gang depan rumahnya. Bedanya, tak ada Pipit menemani Cicit.

Terkadang juga, Ibunya harus tergopoh-gopoh menggotong tubuh Alice dari tidurnya. Karena tak jarang dia sampai terlelap di atas batu nisan Pipit.

Terus.

Hari-hari berlanjut seperti biasa. Seperti itu. Tanpa ada sepatah katapun yang dapat dimengerti keluar dari mulut Alice. Bahkan ibunya sekalipun.

Hingga suatu hari saat yang tidak ia inginkan terulang lagi. Disaat ia sedang melatih Cicit manangkap bola, empat anak ingusan datang mendekat. Salah satu ada yang mengambil bola pingpong yang menggelinding kearah mereka. Cicit belum mahir menangkap lemparan Alice. Mereka bahkan berusaha merebut Cicit untuk bermain. Oh bukan, dipermainkan lebih tepatnya.

Seolah tak mau kalah, dipeluknya Cicit erat-erat. Alice gemetar ketakutan. Tangannya mulai mengepal. Memasang kuda-kuda pertahanan.

“Sini Kucingnya !”

“berikan..”

“Lepasin, Lepasin dari tangan kamu”

Alice berusaha berontak. Kepalannya kini mulai melayang tak tepat arah.

“Wek.. Wek wek”

“Ayo kalau berani”

“Kejar..kejar ayo !”

“Week”

Mata Alice melotot, pertanda amarah mulai memuncak tak tertahankan. Mulutnya komat-kamit, mungkin mengutuk perbuatan mereka seperti waktu dulu. Dia terpancing untu membalas, berdiri dan mengejar. Bukan itu saja, mereka sambil sesekali melempari kerikil sisa peluru ketapel kearahnya.

Kini tak bisa dibiarkan. Ia marah. Benar-benar marah. Menunjuk-nunjuk anak-anak tadi seolah mengecam.

“ha. Ha… ha”

Terjadi kejar-kejaran. Dengan sekuat tenaga dia lari mencoba menangkap dan memukul anak-anak nakal itu . seperti mereka mengejar kucingnya dulu. Bedanya, anak brandal tadi yang justru melempari Alice kerikil sampai ada luka dikepala. Tampaknya bocor. Tapi Alice tak peduli itu.

Sampai berakhir diujung gang alias jalan raya

Peep….pepppp

Sssit.

Sebuah bus besar penuh dengan penumpang melaju kencang tanpa diprediksi oleh mereka yang sedang kejar-kejaran.

Bus berhenti

Dari seberang Alice terlihat kecewa, mangsanya ternyata berhasil sampai diseberang.

Tapi anak nakal itu lupa, bahwa hanya mereka bertiga yang sampai diseberang

“Mana Andi..mana dia?.”

“kamu lihat, Bim?”

“Gak”

“Ada apa ini”

Jalanan kini macet. Alice mulai meringis menunjuk-nunjuk bus tadi.

Jalanan menjadi ramai, warga benar-benar berkerumun seperti ada tontonan topeng monyet. Mereka saling mengira tak percaya melihat darah merah segar yang tercecer dijalanan, bukan merupakan hal biasa.

“Andi tertabrak”

“Kepalanya…”

“Ah,darah, masyaallah”

“Cepat tolong, dia sekarat”

“Panggil polsi”

“Awas, anak-anak gak boleh liat. Mundur mundur !”

“Sisopir, hey, turun kau !”

“Penumpang semua…, cepat turun!”

Beberapa pemuda dan bapak-bapak cepat bereaksi, ada yang mengurus tubuh Andi dan lainnya ada yang mengarak sang sopir bus. Sisopir lebih tak percaya melihat kepala bocah yang baru saja ditabraknya pecah telindas roda depan. Cipratan dan darah ada dimana-mana. Sampai ke trotoar. Membuat sedikitnya tiga orang jijik bahkan muntah melihatnya.

Polisi datang dengan cepat, entah siapa yang memanggil. Segera ada yang membantu mengangkat dan membungkus jasad Andi, memasang Police Line, mengatur lalu lintas, membubarkan warga meski tak bisa, dan diberondong jepretan kamera wartawan.

Kini Alice mulai bisa tertawa lagi dari seberang. Persis seperti seorang bocah yang baru dibelikan mainan kesayangannya. Dia kegirangan.

Telihat dia seperti bisa berbahasa kucing. Cicit sendiri tak mengerti apa maksud ucapan dan tatapannya.

Sejak itulah gang didepan rumah Alice menjadi sepi. Menjadi saksi bisu kutukanya. Bahkan tak ada lagi bocah-bocah yang mau menjahili bocah kecil perempuan yang selama ini mereka anggap gila. Seolah dia dan kucingnya bisa menjadi mala petaka yang menyeramkan.

Begitulah sebenarnya suasana tempat bermain yang selalu diinginkannya.

Wonosobo, 1 Agustus 2011

Advertisements

4 thoughts on “[Cerpen] Gang Alice

Comments are closed.