Shalat, tentang shalat

Assalamu’alaikum

Kali ini saya akan sedikit membahas shalat, hal yang sudah akrab dan sangat melekat dikehidupan kita. Meskipun sudah menjadi amalan sehari-hari, namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam shalat, yaitu syarat, rukun, sunnah dan haiat sholat.  Sering saya menemukan kejanggalan-kejanggalan shalat seseorang yang kebanyakan hal itu bisa diidentifikasi ketika melihat gerakan shalat yang cepat seolah tanpa jeda. Kata orang jawa kaya grusa-grusu. Padahal kalau kita perhatikan rukun dari shalat, tuma’ninah disebutkan paling banyak. Itu menandakan shalat haruslah dengan tenang dan khusu’ tidak grusa-grusu. Itu hanyalah satu contoh kecil.

Keempatnya (syarat, rukun, sunnah, dan haiat) memang saling berkaitan guna kesempurnaan sholat seseorang. Berikut untuk mengingatkan kita saja penjelasan dari keempat komponen sholat diatas. Semoga menjadi jelas dan dapat memperbaiki amalan shalat kita mengingat shalat adalah amalan yang pertamakali di hisab dan di pertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.

1.Syarat

Pengertian syarat secara sederhana ialah suatu perkara yang harus dilakukan / dipenuhi sebelum melakukan hal yang dimaksud -dalam hal ini sholat- yang jika tidak maka akan menyebabkan tidak sahnya pekerjaan (sholat) seseorang. Ada  dua macam syarat; yaitu syarat wajib dan syarat sah. Nah, syarat wajib merupakan syarat yang tidak boleh tidak dipenuhi yang jika tidak maka hal yang akan dilaksanakan tersebut belum dikategorikan sebagai maksud yang sebenarnya (benar-benar sholat). Sedangkan syarat sah sholat ialah syarat yang mempengaruhi ke-sah han sholat seseorang.

–          Syarat wajib

  • Islam
  • Baligh
  • Berakal

–          Syarat sah

  • Suci dari hadas dan najis
  • Menutup aurat
  • Berdiri diatas tempat yang suci
  • Sudah masuk waktu sholat
  • Menghadap kearah kiblat

Sabda Nabi:

“Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa bersuci” (Kifayaul Akhyar)

2.Rukun

Rukun dapat diartikan sebagai sesuatu perkara / hal yang harus ada didalam shalat. Jika tidak ada, meskipun hanya satu yang terlewatkan, maka pekerjaan itu belum dapat dinamakan shalat. Ini yang menjadi kunci sebuah ibadah / pekerjaan seseorang. Adapun rukun shalat menurut kitab Matan Taqrib (Fathul Qarib) ada 18, yaitu

–          Berniat dalam hati

–          Berdiri bagi yang mampu

–          Membaca takbiratul ihram

–          Membaca surat Al-Fatihah

–          Ruku’

–          Tuma’ninah pada rukuk

–          Berdiri tegak dari ruku’ (I’tidal)

–          Tuma’ninah didalam I’tidal

–          Sujud

–          Tuma’ninah didalam sujud

–          Duduk diantara dua sujud

–          Tuma’ninah didalam duduk tersebut

–          Duduk yang terakhir

–          Membaca tasyahud didalam sujud terakhir

–          Membaca shalawat nabi

–          Mengucap salam yang pertama (adapun salam yang kedua ialah sunnah)

–          Berniat keluar dari shalat

–          Tertib

Sabda Nabi:

“Shalatlah kamu sambil berdiri, kalau tidak mampu, sambil duduk kalau masih tidak mampu, sambil berbaring” (HR Bukhari)

“Bila kamu sekalian membaca Alhamdu, bacalah Bismillahirrahmanir rahiim maka sesungguhnya Fatihah itu induk Qur’an dan induk kitab serta tujuh ayat yang berulang-ulang dan Bismillahirrahmanirrahiim itu seayat darinya; atau sabdanya: ia adalah salah satu ayatnya.” (HR Daruquthni)

 3.Sunnah

Ialah suatu perkara yang mendatangkan pahala apabila dikerjakan dan tidak mendapat dosa bila ditinggalkan. Meskipun begitu, sangat perlu dan menurut saya harus dikerjakan agar memperoleh kesempurnaan yang dalam mengerjakan shalat. Jangan sampai meyepelekan hal-hal yang sunnah, karena bisa saja lama-lama jika kita menyepelekan hal yang sunnah bukan tidak mungkin juga akan menyepelekan hal-hal yang wajib. Adapun sunnah shalat (ketika shalat, buakn sebelum masuk shalat) ada dua:

–          Membaca tasyahud awal

–          Membaca doa qunut dalam shalat subuh dan shalat witir pada pertengahan kedua dari bulan Ramadhan

Riwayat Anas ra:

“Tiada henti-hentinya Rasulullah saw itu membaca qunut dalam shalat subuh hingga beliau meninggal dunia” (HR Daruquthni)

4.Haiat shalat / Sunnah Haiat

Yang dimaksud dengan haiat kurang lebih kalau dalam bahasa jawa adalah tingkahe shalat / tatacara shalat. Tentunya berbeda dengan rukun. Karena hal ini ialah sunnah dan berkaitan dengan gerakan-gerakan shalat. Memang tidak menyebabkan shalat tidak sah ketika ditinggalkan, namun alangkah baiknya jika dikerjakan. Toh sunnah bisa menambah pahala dan menambah kesempurnaan shalat kita kan? Apa mau ketika laporan dihadapan Allah ada cedera / cacat pada shalat kita?

Dan berkaitan dengan tatacara, jikapun ditinggalkan, maka akan susah dan meragukan apakah benar sedang mengerjakan shalat, karena shalat itu punya tatacaranya sendiri. Dan bukan hanya shalat, semua amalan memiliki tatacara tersendiri yang masing-masing membedakan satu sama lain.

–          Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram

–          Mengangkat kedua tangan ketika akan dan berdiri dari ruku’

–          Menaruh tangan kanan diatas tangan kiri

–          Membaca doa iftitah dan istingadzah

–          Mengeraskan suara pada tempatnya (Fatihah dan surah; yaitu ketika shalat maghrib, isya, dan subuh pada rakaat pertama dan kedua)

–          Membaca dengan perlahan / suara lirih pada tempatnya (dhuhur dan ashar)

–          Membaca amin

–          Membaca suratan sesudah Fatihah

–          Membaca takbir ketika turun ke ruku’ dan bangun darinya

–          Membaca sami’allahu liman hamidahu, Rabana lakalhamdu…

–          Membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud

–          Meletakkan kedua tangan diatas kedua paha ketika duduk, sambil membentangkan tangan kiri dan menggenggamkan tangan kanan, kecuali telunjuk; maka sesungguhnya berisyarah dengan telunjuknya itu sambil membaca syahadat

–          Duduk iftirasy

–          Duduk tawaruk

–          Membaca salam yang kedua

Ket:

Ketika membaca Illallah, acungkan telunjuknya tangan kanan dengan maksud berisyarah bahwa Allah maha tunggal. Lalu telunjuknya itu didiamkan saja dan menurut sebagian ulama boleh digerak-gerakkan; keduanya dari hadist shahih (Kifayatul Akhyar:74)

Semoga kita selalu dalam lindungan dan rahmat-Nya untuk selalu mencari ilmu dan kebenaran guna mencapai keridhoan ilahi

Wallahu a’lam bisshawab

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Referensi:

Kifayatul Akhyar

Kitab Fathul Qarib

Fiqih Islam (Tarjamahan Matan Taqrib)

zuhud.wordpress.com

Advertisements

5 thoughts on “Shalat, tentang shalat

  1. hm…., kalau tuma’ninah itu kan rukun sedangkan bacaan ketika ruku’,sujud itu kan sunah, jd kalau kita shalat tuma’ninah dlu,baru bacaannya kn? hehe…

    • iya,
      ada dua pertanyaan ketika itu….
      1. apakah tuma’ninah itu adalah jeda sebelum membaca do’a ??
      ataukah
      2. jeda di saat gerakan…..
      tapi setahu dan sependapat saya adalah yang nomer kedua, kenapa? karena memang benar do’a didalam gerakan seperti sujud maupun ruku itu sunah, tapi lebih menekankan pada perubahan posisi. Sehinnga dalam waktu perubahan itu harus ada jeda dan diisi dengan do’a sesuai sunnah rosul [mungkin jg agar tuma’ninahnya lebih berasa kali ya ..hhe]
      itu cuma pendapat saya….kita cari pengetahuan lain dan belajar terus lah agar lebih bisa memahami kaidah-kaidah didalam Islam..
      thanks dah kunjung pah,, SEMANGAT !!

Comments are closed.