Category: Crisis Idea

Nasib Jembatan Penyeberangan ‘Memprihatinkan’

Nasib Jembatan Penyeberangan ‘Memprihatinkan’


Sejak saya jadi mahasiswa UNS, jembatan penyeberangan di depan dekat UNS ini keadaannya rusak parah. Bahkan puing-puing terlihat bergelayut dan berpotensi jatuh. Tentunya sangat membahayakan bagi para pengendara yang melintasi jalan dibawahnya.

Anehnya, terpampang jelas tulisan pada tangga jembatan Maaf Sedang Direnovasi, namun Continue reading “Nasib Jembatan Penyeberangan ‘Memprihatinkan’”

Advertisements

L.K.S


Hm…
Persiapan kali ini sangat melelahkan. Aku hanya punya waktu 12 hari dimulai dari tanggal 6 kemarin. Web Design. Sepertinya memang berkutat didepan komputer selama 6 jam sudah cukup melelahkan, pegel. 

Ya Allah…

Semoga aku dapat mempersembahkan kejutan terbaik dalam tugas kali ini. Suatu kebanggan bisa ikut LKS sampai tingkat Provinsi.

Hm…

Apalagi ya, browsing-browsing aku lihat web-web provinsi daerah sangat bagus-bagus. Aku jadi pengen minimal bisa menyamainya, mirip saja sepertinya sudah cukup.

Ya Rabb

Bimbing aku.

Bismillah 🙂

Intermezo


Assalamu’alaikum

Salam sejahtera bai kita semua, kali ini saya akan sedikit memposting kata-kata pak Rahmat -salah satu guru terkenal di SMKN 1 Wonosobo- mengenai 2 moratorium pemerintah baru-baru ini. Ada yang masih ingat ? atau mengikuti beritanya . . .

Ya, yang pertama yaitu penghentian pendaftaran untuk menjadi PNS dan satunya lagi penghentian pengiriman TKI ke Arab Saudi mengingat juga banyak kasus disana.
Kecewa, banyak yang kecewa sebenarnya dengan kebijakan ini. Bagaimana tidak, PNS sekarang baru-baru ini menjadi tren baru dalam dunia mata pencaharian. Dari gaji yang tinggi dan jaminan pensiunan dari pemerintah sepertinya sudah cukup menjadi bekal untuk kehidpan beberapa tahun mendatang. Apalagi jika sudah sampai naik tingkat…wah, habis pensiun tinggal leyeh-leyeh saja ya hhe . .

Kemudian jadi TKI. Ini juga suatu yang sangat menjanjikan. Siapa yang mau kerja dinegeri sendiri jika gaji yang ditawarkan masih rendah dan tidak layak, apalagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang kian hari kian meningkat. Coba saja, rata-rata saja gaji pembantu di dalam negri paling hanya 1 juta, itu saja sudah yang termasuk lama pengabdiannya. Banyak yang hanya 450ribu, 600, bahkan tetangga saya hanya 350ribu saja perbulannya.

Berbeda dengan negara-negara lain yang lebih maju sedikit ketimbang Indonesia, mereka sangat menghargai setiap jasa orang lain. Apalagi jika orang itu memiliki banyak skill dan kemampuan dibidangnya, pasti mereka juga akan betah mempertahankannya untuk tetap memberi konstribusi sebanyak-banyaknya disitu. Tentu saja dengan iming-imin imbalan yang setimpal dengan kemampuan yang ditunjukkan.
Banyak negara-negara yang pada khususnya menjadi incaran para TKI telah menerapkan standar gaji terendah dinegara itu. Bahkan hitungannya bukan lagi perbulan, tapi perjam. Bayangkan mereka sampai berani menentukan perjam, bukan perhari atau perminggu, atau setahun. Ini berarti imbalan tersebut tetap sebanding dengan pekerjaan. Sebut saja Malaysia dan Singapura, Hongkong dengan HKD 28 /jam serta Jepang 736 yen.

Tapi dibalik dua moratorium tersebut tadi, ada banyak hikmah yang terkandung. Yaitu dengan terkurungnya warga di negri sendiri dan dengan sedikitnya lapangan pekerjaan memacu setiap orang untuk lebih kreatif lagi dalam mencari penghasilan. Untuk kita para pelajar, salah satu pekerjaan yang cocok untuk sampingan agar masih bisa sekolah yaitu menjadi wirausahawan. Wirausaha apa? Apa saja . . . dari mulai menawarkan jasa, atau mungkin menawarkan jajan-jajan untuk dititipkan dikantin, atau membuka percetakan / pengetikan atau bisa juga pulsa.
Saya memiliki teman dimana dia mempunyai komputer beserta printer namun itu digunakan untuk pribadi, awalnya. Namun setelah melihat peluang bahwa didesanya masih jarang ada percetakan, digunakanlah satu set perlengkapan itu untuk membuka jasa pencetakan foto dan print. Lumayan, katanya hasil perharinya saja (meski gak mesti) minimal dua puluh ribu, lumayan kan. coba kalau dikalikan tigapuluh, bisa sampai lima digit angka perbulan.

Untuk itu juga kita harus bersiap menghadapi tantangan yang semakin ketat, apalagi dengan semakin majunya penguasaan IPTEK. Maka mengasah skill dan ketrampilan itu sudah wajib.

Di SMKN 1 juga begitu, kami tidak hanya diajarkan ketrampilan pada bidang keahlian tertentu saja, tetapi juga diasah kemampuan wirausahanya. Yaitu dengan pelajaran Kewirausahaan dua jam seminggu dan kadang-kadang juga ada prakteknya, yaitu suruh jualan berbagai macam barang yang diambil dari Edumart -yah, meski dalam satu setengah tahun ini saya baru sekali namun ada juga yang nambah-. Hasilnya lumayan juga, bisa buat uang saku dua hari. hhe (tapi lumayan ko’, karena satu hari langsung terjual 🙂 )

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan,

Wassalamu’alaikum . . .