Sepotong Kata


Kala itu hanya terdiam, tak ada pandang
Hanya saja suara terselip diantara sudut senja
Dan lari, menghilang

Kepada ilalang sang pendengar budiman
Tembok-tembok, beton, besi berpagar
Mohon pamit
Dan kutitip sepotong kata untuknya, maaf

Advertisements

[Puisi] Titipan hati


Titipan seseorang, mungkin dari hatinya

Lucu sekali kukira ketika bermain perasaan denganmu
Tapi, betapa hebat kegembiraan setiap saat bersama
Kamu tak peduli dengan itu, tentu, aku tahu
Janganlah sekedar pertemanan biasa
Kau akui memang itu cukup sudah membuatmu bahagia, kenapa harus lebih

Oke
Seberapa kecil peluang, aku akan mencoba masuk

Kau tahu hatiku?
Tentu tidak, atau hanya aku berpura tidak tahu karena iya jawabanmu
Mengapa?

Aku coba menguatkan, mempersiapkan diri
Tak mudah untuk pantas menyandingmu, setidaknya sementara ini
Aku cukup berharap padamu, meski kau justru sebaliknya
Tak apalah,
Aku hanya ingin tahu hatimu

Katanya

[Puisi] Sesosok itu Kau


Saatnya perlahan hujan terhenti
Mengingatkan rindunya kehangatan menghampiri
Memeluk, mendekap, menemani
Teruntuk kau yang sedang dalam hati

Kulihat pesona dalam bara semangat
Sesosok

Kini tinggal sisa-sisa tetesan
Mengering sesaat jatuh menguap
Hanya menyisakan kepulan lenyap
Kenangan terbungkus sebuah harapan memudar

Sesosok itu kau yang selalu dalam hati
Mendekatlah

[Cerpen] Waktu Serasa Cepat


Waktu serasa cepat, petang mulai menyelimuti. Sebelumnya kabut gelap telah lebih dulu mengepul. Membungkam pesona jejeran pohon karet sejauh dua kilometer. Tak kutahu persis luasnya. Hanya saja, perjalanan ini sangat lambat terasa. Meski dengan menaiki sepeda.

Kukayuh cepat. Namun jalanan yang mulai gelap memburamkan pandanganku. Bahkan tak ada satupun kerlipan cahaya di jalan, berharap bulan akan mengintip kami.

Ah ya, kami. Aku sampai lupa, temanku masih membuntuti dibelakang. Secepat kilat pikiranku tersadar. Gesit aku memerintah otakku untuk menghentikan kayuhan kaki. Segera. Dan tangan kiri bertugas menarik pedal rem, sekuatnya.

“Temannn… teman… tungguu !!, ah iya, masih terdengar jelas panggilannya. Tapi setelah kepala kutengok kebelakang tak ada yang terlihat. Bahkan bayang sekalipun. Aku kira temanku sudah hilang tertelan kegelapan. Benar-benar gelap. Dimana kau ? masihkah dibelakangku ? katakana lagi, teriaklah.

“Hey…,tunggu !” tiba-tiba saja dia sudah disampingku. Astaga, kenapa aku sampai tak menyadarinya…

“Kenapa cepat sekali ? sepertinya aku sudah tidak kuat lagi.”

“Iya, hari sudah tidak petang lagi. Gelap.” Aku jawab dengan sedikit gagap. Tak tega kulihat wajahnya. Pucat dan kelelahan. Itu yang bisa kulihat meski tak ada keringat mengalir di wajahnya. Sedekat ini, hanya setengah meter. Masih kulihat jelas dia.

Kalau aku juga iya, capek. Lihatlah, aku sudah berlumuran keringat, tapi tak kurasa panas atau hangat badan. Mungkin karena ini sudah terlalu petang, malam.

“Kita istirahat disini dulu ya !” pintanya. Continue reading

Sayangnya


Sayangnya hanya angan

meski tercatat rapi terencana ‘wah’
Sayangnya hanya waktu
terbuang percuma tanpa ‘isi’ di situ
Sayangnya pada diri
tak mau menjemput beraksi seperti itu
Lebih
apalah daya terlanjur berleha