Category: Cerpen

[Cerpen] Waktu Serasa Cepat


Waktu serasa cepat, petang mulai menyelimuti. Sebelumnya kabut gelap telah lebih dulu mengepul. Membungkam pesona jejeran pohon karet sejauh dua kilometer. Tak kutahu persis luasnya. Hanya saja, perjalanan ini sangat lambat terasa. Meski dengan menaiki sepeda.

Kukayuh cepat. Namun jalanan yang mulai gelap memburamkan pandanganku. Bahkan tak ada satupun kerlipan cahaya di jalan, berharap bulan akan mengintip kami.

Ah ya, kami. Aku sampai lupa, temanku masih membuntuti dibelakang. Secepat kilat pikiranku tersadar. Gesit aku memerintah otakku untuk menghentikan kayuhan kaki. Segera. Dan tangan kiri bertugas menarik pedal rem, sekuatnya.

“Temannn… teman… tungguu !!, ah iya, masih terdengar jelas panggilannya. Tapi setelah kepala kutengok kebelakang tak ada yang terlihat. Bahkan bayang sekalipun. Aku kira temanku sudah hilang tertelan kegelapan. Benar-benar gelap. Dimana kau ? masihkah dibelakangku ? katakana lagi, teriaklah.

“Hey…,tunggu !” tiba-tiba saja dia sudah disampingku. Astaga, kenapa aku sampai tak menyadarinya…

“Kenapa cepat sekali ? sepertinya aku sudah tidak kuat lagi.”

“Iya, hari sudah tidak petang lagi. Gelap.” Aku jawab dengan sedikit gagap. Tak tega kulihat wajahnya. Pucat dan kelelahan. Itu yang bisa kulihat meski tak ada keringat mengalir di wajahnya. Sedekat ini, hanya setengah meter. Masih kulihat jelas dia.

Kalau aku juga iya, capek. Lihatlah, aku sudah berlumuran keringat, tapi tak kurasa panas atau hangat badan. Mungkin karena ini sudah terlalu petang, malam.

“Kita istirahat disini dulu ya !” pintanya. Continue reading “[Cerpen] Waktu Serasa Cepat”

Advertisements

[Cerpen] Gang Alice


Gang Alice

Oleh :Junaidi m

 

“Hus.. Hus..”

“Whaha.. ha..”

“Jangan. Jangan ganggu mereka.”

“ha.. ha.. ha..”

Teriakan bocah kecil itu begitu menyedihkan. Di sudut gang dengan lebar kurang dari tiga meter itu beberapa anak laki-laki tepat dihadapan matanya, mengganngu dan menakut-nakuti dua kucing kesayangannya. Bukan itu saja, mereka bahkan sampai melempari dengan batu-batu kerikil.

“Ha ha..”

Mereka tertawa sambil terus berusaha melukai Pipit dan Cicit, dua kucing yang dirawatnya sejak kecil. Dengan terbirit-birit mereka lari ketakutan. Bahkan anak anak nakal tadi terus mengejar dan memburu Pipit dan Cicit, seolah mereka hewan liar. Karena belum puas karena dirasa lemparannya belum tepat sasaran, dua kucing itupun dikejar dengan buasnya.

Sampai dihadapan mereka, diujung gang, adalah jalan raya yang ramai dengan kendaraan-kendaaan besar. Boleh dibilang jalur ini paling ramai di kota ini.

“Berhenti…!” Continue reading “[Cerpen] Gang Alice”

[Cerpen] Ini Tentang Perasaan

[Cerpen] Ini Tentang Perasaan


Ini tentang Perasaan

Oleh: Junaidi m

Oh Rahma..

Kenapa aku begitu merindukanmu sekarang. Entah kita jarang bertemu atau berbicara, yang jelas saat ini pikiranku terus dipenuhi bayanganmu. Seorang perempuan solekhah berjilbab anggun yang baru kukenal sekitar satu tahun, rasanya berbeda dengan sensasi mengenal orang lain dalam waktu sesingkat itu.

Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi yag jelas aku ingin sekali ada didekatmu lagi. Entah itu menyaksikan wajahmu, canda tawamu, kekesalan, bahkan tawamu. Seperti waktu dulu saat kita masih sering bersama dalam kelompok belajar. Itu idemu bukan ya?. Ah entahlah, aku lupa. Disaat seperti itu justru kamu terlihat lebih ramah dari pada disekolah. Bukannya wajahmu menyeramkan saat dikelas, tapi melihat outMa dari otakmu yang super encer itu menjadikan aku termenung beberapa saat. Aku hanya siswa biasa yang kepintarannya masih jauh dibawahmu, aku hanya seorang yang terlalu berharap pada mimpi dan angan-angan. tapi kamu, kamu begitu cantik dan mempesona. Aku jamin tak hanya aku yang menyukaimu, pasti banyak teman-temanku juga yang kagum melihat segala hal darimu.

Aku akui aku memang menyukaimu. Kira-kira sejak dua minggu setelah pertama menjadi siswa SMK. Tak kusangka aku penganut juga pada faham Cinta Pada Pandangan Pertama. Apalagi di semester satu dululah saat kita sepakat mengadakan belajar kelompok. Ternyata kau sepaham juga denganku tentang itu. Karena kau menganggapnya penting dan aku justru sangat membutuhkan yang namanya diskusi dan saling tukar pengalaman, ilmu dan pelajaran dengan orang lain. Bukannya memanfaatkan teman, tapi aku juga mencoba untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Ya meskipun otakku pas-pasan, tapi paling tidak pernah ada hal-hal yang belum kamu dan teman-temanku yang ada dikelompok belajar itu ketahui yang akhirnya kukasih tahu juga.

Iya Ma, aku ingin sekali mengenang moment itu. Continue reading “[Cerpen] Ini Tentang Perasaan”