Sepotong Kata


Kala itu hanya terdiam, tak ada pandang
Hanya saja suara terselip diantara sudut senja
Dan lari, menghilang

Kepada ilalang sang pendengar budiman
Tembok-tembok, beton, besi berpagar
Mohon pamit
Dan kutitip sepotong kata untuknya, maaf

Advertisements

[Puisi] Titipan hati


Titipan seseorang, mungkin dari hatinya

Lucu sekali kukira ketika bermain perasaan denganmu
Tapi, betapa hebat kegembiraan setiap saat bersama
Kamu tak peduli dengan itu, tentu, aku tahu
Janganlah sekedar pertemanan biasa
Kau akui memang itu cukup sudah membuatmu bahagia, kenapa harus lebih

Oke
Seberapa kecil peluang, aku akan mencoba masuk

Kau tahu hatiku?
Tentu tidak, atau hanya aku berpura tidak tahu karena iya jawabanmu
Mengapa?

Aku coba menguatkan, mempersiapkan diri
Tak mudah untuk pantas menyandingmu, setidaknya sementara ini
Aku cukup berharap padamu, meski kau justru sebaliknya
Tak apalah,
Aku hanya ingin tahu hatimu

Katanya

[Puisi] Sesosok itu Kau


Saatnya perlahan hujan terhenti
Mengingatkan rindunya kehangatan menghampiri
Memeluk, mendekap, menemani
Teruntuk kau yang sedang dalam hati

Kulihat pesona dalam bara semangat
Sesosok

Kini tinggal sisa-sisa tetesan
Mengering sesaat jatuh menguap
Hanya menyisakan kepulan lenyap
Kenangan terbungkus sebuah harapan memudar

Sesosok itu kau yang selalu dalam hati
Mendekatlah

Sayangnya


Sayangnya hanya angan

meski tercatat rapi terencana ‘wah’
Sayangnya hanya waktu
terbuang percuma tanpa ‘isi’ di situ
Sayangnya pada diri
tak mau menjemput beraksi seperti itu
Lebih
apalah daya terlanjur berleha